Find Us OIn Facebook

photo by Google
Banyak sekali permasalahan banjir di Indonesia yang perlu dikaji secara  mendalam. Misalnya, banjir Sungai Citarum pada tahun 2000. Masalahnya, banjir dengan diikuti tanah longsor seperti yang terjadi di berbagai daerah seperti di Aceh, Lampung, Jakarta, Bandung, Cilacap, Purwokerto, Kebumen, Gorontalo, tidak cukup hanya  diratapi bersama sebagai bencana alam. Juga tidak cukup bila hanya dengan mengkambinghitamkan hujan deras sebagai penyebab tunggal. Seluruh faktor penyebab harus diungkap dan jalan pemecahannya perlu dicari agar bisa ditindaklanjuti secara serius.

Sedikitnya ada lima faktor penting penyebab banjir di Indonesia yaitu: faktor hujan, faktor hancurnya retensi Daerah Aliran Sungai (DAS), faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai , faktor pendangkalan sungai dan faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana prasarana.

Faktor hujan.

Hujan bukanlah penyebab utamna banjir dan tidak selamanya hujan lebat akan menimbulkan banjir. Begitu pula sebaliknya . Terjadi atau tidaknya banjir justru sangat tergantung dari keempat faktor penyebab lainnya karena secara statistik hujan sekarang ini merupakan pengulangan belaka dari hujan yang telah terjadi di masa lalu. Hujan sejak jutaan tahun yang lalu berinteraksi dengan faktor ekologi, geologi, vulkanik mengukir permukaan bumi  menghasilkan lembah, sungai, danau, cekungan serta sungai dan bantarannya. Permukaan bumi ini kemudian memperlihatkan secara jelas lokasi-lokasi rawan banjir yang perlu diwaspadai.

Penanggulangan banjir dari faktor hujan ini sangat sulit, bahkan mustahil, karena hujan adalah faktor ekstern yang digerakkan oleh iklim makro/global. Usaha yang bisa dilakukan adalah menjauhkan permukiman, industri dan pusat pertumbuhan lainnya dari daerah banjir yang sudah secara historis dipetakan oleh hujan. Untuk mengurangi kerugian banjir akibat hujan, bisa dikembangkan fungsi peringatan dini. Caranya dengan mengukur tinggi hujan di berbagai tempat, lalu dibuat kurva hubungan antara curah hujan (tinggi hujan) dengan tinggi muka air sungai yang akan terjadi. Dengan ini masyarakat yang akan terkena banjir bisa mendapat informasi lebih dini.

Faktor DAS

Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. Perubahan fisik yang terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS terhadap banjir. Retensi DAS dimaksudkan sebagai kemampuan DAS untuk menahan air di bagian hulu. Perubahan tata  guna lahan, misalnya dari hutan dijadikan perumahan, perkebunan atau lapangan golf akan menyebabkan retensi DAS ter-sebut berkurang secara drastis.

Seluruh air hujan akan dilepaskan DAS ke arah hilir. Sebaliknya semakin besar retensi suatu DAS semakin baik, karena air hujan dapat dengan baik diresapkan (diretensi) dan secara perlahan-lahan dialirkan ke sungai hingga tidak menimbulkan banjir di hilir. Manfaat langsung peningkatan retensi DAS adalah konservasi air di DAS terjaga, muka air tanah stabil, sumber air terpelihara, kebutuhan air untuk tanaman terjamin dan fluktuasi debit sungai dapat stabil.

Retensi DAS dapat ditingkatkan dengan program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan, pedesaan, atau kawasan lain, mengaktifkan reservoar-reservoar alamiah, pembuatan resapan-resapan air hujan alamiah dan pengurangan atau menghindari sejauh mungkin pembuatan lapisan keras permukaan tanah yang dapat mengakibatkan sulitnya air hujan meresap ke tanah.

Memperbaiki retensi DAS pada prinsipnya adalah memperbanyak kemungkinan air hujan dapat meresap secara alamiah ke dalam tanah sebelum masuk ke sungai atau  mengalir ke hilir. Untuk hal ini perlu kesadaran masyarakat secara masal terhadap pentingnya DAS melalui proses pembelajaran sosial yang intensif dan terus-menerus.

Kesalahan pembangunan

Pola penanggulangan banjir serta longsor sejak abad ke-16 hingga akhir abad  ke-20 di seluruh dunia sebenarnya hampir sama, yaitu dengan pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, pembetonan dinding, dan pengerasan tampang sungai. Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini juga mengalami hal serupa.  Intinya adalah mengusahakan air banjir secepat-cepatnya dikuras ke hilir, tanpa memperhitungkan banjir yang akan terjadi di hilir.

Pola pelurusan dan sudetan seperti di atas jelas mengakibatkan percepatan aliran air menuju hilir. Di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang jauh  lebih besar dibanding sebelumnya. Jika tampang sungai di tempat tersebut tidak  mencukupi maka akan terjadi peluapan ke bagian bantaran. Jika bantaran sungai  tidak cukup, bahkan mungkin telah penuh dengan rumah-rumah penduduk, maka akan  terjadi penggelembungan atau pelebaran aliran. Akibatnya areal banjir semakin melebar atau bahkan alirannya berpindah arah.

Pelurusan dan sudetan sungai pada hakikatnya merupakan penghilangan retensi atau  pengurangan kemampuan retensi alur sungai terhadap aliran airnya. Penyelesaian  masalah banjir di suatu tempat dengan cara ini pada hakikatnya merupakan penciptaan masalah banjir baru di tempat lain di bagian hilirnya.

Oleh karena itu, pola penanganan banjir di Indonesia memasuki abad ke-21 ini tidak lagi dengan cara-cara di atas, namun dengan menggunakan prinsip  integralistik yaitu One River-One Plant and One Intergrated Management. Dengan  prinsip ini maka banjir juga harus dibagi secara integral sepanjang sungai  menjadi banjir kecil-kecil, guna menghindari banjir besar yang destruktif di suatu tempat tertentu.

Perlu dikembangkan juga prinsip Let River be Natural River. Implikasinya dalam  penanggulangan banjir adalah justru sungai alamiah yang bermeander, bervegetasi  lebat, dan memiliki retensi alur tinggi, yang perlu dijaga kelestariannya. Soalnya, hanya ini yang mempunyai retensi tinggi terhadap banjir.

Pendangkalan

Faktor pendangkalan sungai termasuk faktor penting pada kejadian banjir.  Pendangkalan sungai berarti terjadinya pengecilan tampang sungai, hingga sungai tidak mampu mengalirkan air yang melewatinya dan akhirnya meluap.

Pendangkalan sungai dapat diakibatkan oleh proses pengendapan (sedimentasi)  terus-menerus, terutama di bagian hilir sungai. Proses sedimentasi di bagian  hilir ini dapat disebabkan oleh erosi intensif di bagian hulu. Erosi ini selain  merupakan akibat dari rusaknya DAS bagian hulu hingga tanahnya mudah tererosi,  juga karena pelurusan sungai dan sudetan, yang dapat mendorong peningkatan erosi di bagian hulu.

Material tererosi ini akan terbawa aliran dan lambat laun diendapkan di hilir  hingga menyebabkan pendangkalan di hilir. Masalah pendangkalan sungai sudah sangat serius dan ditemukan di hampir seluruh daerah hilir/muara di Indonesia.

Untuk itu perlu segera disosialisasikan perbaikan DAS dengan pelarangan  penjarahan hutan dan penghentian HPH serta peninjauan kembali proyek-proyek pelurusan dan sudetan-sudetan yang tidak perlu.

Pendangkalan sungai juga dapat diakibatkan oleh akumulasi endapan sampah yang  dibuang masyarakat ke sungai. Sampah domestik yang dibuang warga masyarakat ke  sungai terutama di kota-kota besar akan berakibat terjadinya pendangkalan dan penutupan alur sungai sehingga aliran air tertahan dan akhirnya sungai meluap.

Berbagai penelitian sungai di Indonesia mencatat bahwa setiap sungai yang  melintasi kawasan permukiman di samping kualitasnya sangat buruk juga kandungan  sampahnya tinggi. Maka sudah sangat mendesak untuk mengadakan sosialisasi  peraturan pelarangan dan sanksi pembuangan sampah di sungai bahkan jika perlu  dibentuk polisi sungai yang bertugas menjaga lingkungan sungai secara profesional.

Tata wilayah

Kesalahan fatal yang sering dijumpai dalam perencanaan tata wilayah adalah  penetapan kawasan permukiman atau pusat perkembangan justru di daerah-daerah rawan banjir. Terlebih lagi perkembangan tata wilayah juga sering tidak bisa dikendalikan, sehingga mengarah ke daerah banjir.

Sebagai contoh, banyak sekali perumahan baru yang dibangun di daerah bantaran  dan tebing sungai yang rawan banjir dan longsor. Demikian juga banyak terjadi  pembangunan jalan tol, jalan provinsi, tanggul, dan saluran drainasi, yang  justru dapat menyebabkan terjadinya banjir di kawasan tertentu karena salah  dalam perencanaannya. Air jadi tertahan, tidak bisa lancar keluar atau semua air mengalir menuju kawasan tertentu sehingga terjadi banjir.

Penyelesaian masalah itu tidak bisa digeneralisasi. Diperlukan semakin banyak orang yang ahli atau tahu mengenai banjir baik yang berskala mikro maupun makro, untuk merencanakan pembangunan tanpa menimbulkan banjir.

Kelima faktor tersebut secara integral perlu diperhatikan serius oleh seluruh  ahli banjir di Indonesia guna menghindari dan menanggulangi banjir secara  integral. Ironis juga rasanya, kalau negara Indonesia yang kaya akan masalah  banjir tidak kaya ahli banjir. Apa justru karena Indonesia tidak kaya ahli banjir maka sering kebanjiran?

(Dr Ing Agus Maryono, dosen Fakultas Teknik, Jurusan Sipil Bidang Hidro, UGM. Peneliti masalah sungai, lingkungan, dan eko-hidraulik)
Sumber: Kompas, 20 Januari 2002

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama